Indonesia Krisis Tenaga Elektromedis, Profesi Kunci untuk Kemastikan Kualitas Layanan Kesehatan

Ketua Umum DPP IKATEMI membuka Simposium Internasional bertema ‘The Role of Electromedical in Supporting the SIHREN’ di Surabaya, Kamis (11/12/2025).

sekitarsurabaya.com/, SURABAYA — Kebutuhan tenaga elektromedis di Indonesia kian mendesak di tengah percepatan transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi dan artificial intelligence (AI).

Hal itu disampaikan Direktur Perencanaan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Laode Musafin M pada Simposium Internasional bertema ‘The Role of Electromedical in Supporting the SIHREN’ yang digelar Ikatan Elektromedis Indonesia (IKATEMI) di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (11/12/2025).

Laode mengungkapkan, saat ini Indonesia hanya memiliki 5.258 elektromedis yang tersebar di 38 provinsi, dimana 54 persen di antaranya berada di Pulau Jawa. Jumlah itu sangat jauh dari kebutuhan nasional.

“Pada 2025 saja kita membutuhkan 36.817 tenaga elektromedis. Artinya kebutuhan kita sangat besar dan tidak bisa ditawar lagi,” ujarnya.

Kekurangan ini semakin terasa di tengah meningkatnya kebutuhan peralatan medis canggih, digitalisasi rumah sakit, serta pemanfaatan AI yang berkembang pesat. Ia menegaskan elektromedis menjadi profesi kunci dalam memastikan kualitas layanan medis, terutama untuk rumah sakit yang dituntut menangani penyakit prioritas seperti kanker, jantung, stroke, uronefrologi, dan kesehatan anak.

Laode menambahkan, pemerintah sudah menyelesaikan perencanaan SDM kesehatan berbasis wilayah hingga 2032, termasuk perencanaan kebutuhan elektromedis. Saat ini, Kemenkes tengah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi untuk mereview moratorium pembukaan program studi elektromedis.

“Kita telah sepakat bahwa pembukaan prodi elektromedis harus berbasis perencanaan kebutuhan nasional. Ini salah satu langkah penting untuk memproduksi tenaga dalam jumlah cukup dan terdistribusi merata,” tegasnya.

Ketua Umum DPP IKATEMI, Agus Komarudin, menegaskan komitmen organisasi profesi untuk berkolaborasi dengan pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota. Kolaborasi disebutnya penting untuk mendorong lahirnya elektromedis-elektromedis baru.

“Kami mendorong hadirnya elektromedis-elektromedis baru di Indonesia. IKATEMI siap menjadi bagian dari proses produksi tenaga elektromedis serta mendukung transformasi kesehatan yang terus berjalan cepat,” kata Agus.

Ia menekankan pentingnya peningkatan kapabilitas, pembaruan kompetensi setiap tahun, dan kesiapan IKATEMI untuk mengibarkan standar profesi Indonesia ke dunia internasional.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Prof. Erwin Astha Triyono, menegaskan kebutuhan elektomedis juga menjadi perhatian penting daerah. Saat ini Jatim baru memiliki 711 elektromedis.

“Untuk populasi sekitar 40 juta jiwa, idealnya kami membutuhkan minimal 2.000 orang,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa selain jumlah, pemerataan distribusi menjadi tantangan serius. Seluruh kabupaten/ kota dan rumah sakit harus memiliki tenaga yang kompeten dalam menghadapi teknologi medis mutakhir, termasuk AI.

“Produksi harus ditambah, mutunya dijaga, dan distribusinya diatur. Ini isu nasional yang harus diselesaikan bersama,” tambahnya.

Simposium internasional yang digelar IKATEMI menjadi momentum penguatan kolaborasi antara pemerintah dan organisasi profesi untuk mempercepat pemenuhan tenaga elektromedis.

Upaya ini dinilai krusial untuk mendukung jalannya transformasi kesehatan nasional, meningkatkan kualitas layanan, serta memastikan fasilitas kesehatan di Indonesia dapat mengikuti perkembangan teknologi medis dunia.

Share it :