Adopsi Teknologi Amerika, Eptilu Garut Mampu Hasilkan Produk Pertanian Berkualitas Tinggi

Owner Eptilu, Rizal Fahreza (kanan) memaparkan teknologi yang digunakan untuk peningkatan produktivitas dan kualitas pertanian

SEKITARSURABAYA.COM, SURABAYA — Kawasan agrowisata dan edukasi pertanian terpadu Eptilu (Fresh From Farm) di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi mendorong produktivitas pertanian dan membawa manfaat bagi masyarakat sekitar.

Owner Eptilu, Rizal Fahreza mengungkapkan, teknik pertanian yang semula diterapkan masyarakat sekitar masih konvensional. Sampai akhirnya ia datang dan menyulap area pertanian tersebut menjadi pusat edukasi pertanian modern berbasis teknologi tepat guna.

Di sana, komoditas seperti cabai dan tomat dirawat menggunakan teknologi modern sehingga menghasilkan hasil panen dengan kualitas unggul. Teknologi yang dimaksud adalah dengan menerapkan sistem pertanian berbasis green house, pengaturan nutrisi terukur, serta irigasi otomatis yang dikendalikan secara digital.

“Air untuk penyiraman bisa kami atur lewat aplikasi. Jadi kontrolnya presisi, tidak berlebihan dan tidak kurang. Semua bisa dimonitor dari ponsel,” jelas Rizal saat menerima kunjungan media peserta Capacity Building dan Media Gathering BI Jatim 2026, Jumat (13/2/2026).

Rizal menjelaskan, konsep utama yang dibangun adalah menghadirkan pembelajaran berbasis perbandingan antara sistem alami dan sistem berbasis teknologi.

Hal itu dimaksudkan agar pengunjung bisa membedakan hasil pertanian yang menggunakan teknik konvensional dengan tanaman yang dirawat dengan memanfaatka teknologi.

Menurut Rizal, pendekatan ini penting untuk menunjukkan secara langsung dampak pemanfaatan teknologi terhadap produktivitas dan ketahanan tanaman.

Edukasi tersebut menyasar petani, pelajar, hingga pemangku kebijakan agar memahami bahwa modernisasi pertanian bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Rizal mengungkapkan, teknologi budidaya tersebut ia adopsi dari Amerika Serikat, lalu dikembangkan sesuai dengan kondisi iklim dan karakter tanah di Garut. Sistem green house dipadukan dengan irigasi berbasis aplikasi yang dapat dikendalikan melalui ponsel pintar.

Sistem ini memungkinkan efisiensi penggunaan air sekaligus menjaga kestabilan nutrisi tanaman. Pengembangan green house berkapasitas 4.000 pohon tersebut mendapat dukungan dari Bank Indonesia sejak 2022.

Dukungan yang diberikan Bank Indonesia meliputi percepatan pembangunan infrastruktur pertanian modern yang kini menjadi tulang punggung produksi cabai di Eptilu. Hasilnya, dalam tiga bulan setelah tanam perdana, cabai sudah dapat dipanen dan berlangsung rutin setiap pekan.

“Setiap minggu bisa panen dan sekali panen di atas satu ton,” kata Rizal.

Selain itu, tanaman tersebut juga mampu bertahan hingga tiga tahun, yanh menunjukkan efisiensi siklus produksi yang signifikan. Produksi yang melimpah tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar Garut, tetapi juga dipasarkan ke luar daerah.

Berkat jejaring kerja sama antarwilayah, produk Eptilu kini menyuplai pasar hingga DKI Jakarta dan Banten. Selain menjual hasil segar, Eptilu juga mengembangkan produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas hortikultura.

Rizal menegaskan, penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir menjadi visi utama pengembangan kawasan tersebut. Sejak berdiri pada 2019, Eptilu berkembang dari pengelolaan 5 hektar lahan menjadi 75 hektar saat ini.

“Kami ingin membuktikan bahwa teknologi di sektor pertanian bukan hanya meningkatkan hasil, tetapi juga membangun ekosistem yang berkelanjutan dan mensejahterakan petani,” ucap Rizal.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *