Public Expose Kinerja Keuangan Bank Jatim Tahun 2025. (Foto: Humas Bank Jatim)
SEKITARSURABAYA.COM, SURABAYA — PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) mencatatkan rekam jejak historis pada tahun buku 2025. Tidak hanya sukses mencetak lonjakan laba bersih konsolidasi sebesar 24,80 persen (YoY) menjadi Rp 1,617 triliun, perseroan kini resmi menjadi perusahaan induk (holding) bagi lima Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia.
Pencapaian gemilang tersebut dipaparkan secara langsung oleh jajaran direksi dalam Public Expose Kinerja Keuangan Bank Jatim Tahun 2025 yang digelar di Hotel Discovery SCBD, Jakarta, Senin (30/3/2026).
Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, mengungkapkan bahwa 2025 menjadi tahun krusial bagi ekspansi perseroan. Melalui skema Kelompok Usaha Bank (KUB), Bank Jatim kini telah memfinalisasi seluruh tahapan untuk memayungi lima BPD, yakni Bank NTB Syariah, Bank Banten, Bank Lampung, Bank Sultra, dan Bank NTT.
“Sinergi untuk aspek permodalan kini telah terimplementasi secara tuntas. Masuk di tahun 2026 ini, fokus kami bergeser pada maksimalisasi sinergi di bidang bisnis, keuangan, serta dukungan infrastruktur lainnya sebagai enabler,” tegas Winardi.
Langkah agresif Bank Jatim dalam membentuk KUB berdampak langsung pada postur keuangan konsolidasi perseroan. Sepanjang 2025, total aset konsolidasi meroket 42,93 persen (YoY) menyentuh angka Rp 168,855 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 118,142 triliun.
Sejalan dengan lonjakan aset, penyaluran pinjaman konsolidasi juga tumbuh masif sebesar 46,65 persen menjadi Rp 110,503 triliun.
Sementara itu, untuk kinerja Bank Only (induk), Bank Jatim berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,54 triliun atau naik 20,65 persen. Total aset Bank Only mencapai Rp 105,8 triliun (tumbuh 3,70 persen YoY), dengan penyaluran kredit yang tumbuh konservatif di angka 4,98 persen (YoY) menjadi Rp 67,24 triliun. Komposisi kredit ini ditopang oleh segmen konsumer sebesar Rp 36,54 triliun dan kredit produktif Rp 30,7 triliun.
“Kami mengimplementasikan strategi bisnis yang seimbang. Penyaluran pinjaman dilakukan lebih selektif pada sektor prospektif, sembari memperdalam penetrasi kredit konsumer dan disiplin melakukan efisiensi beban kerja,” papar Winardi.
Di tengah ekspansi kredit, manajemen memastikan kualitas aset tetap terkendali sesuai risk appetite. Bank Jatim mengambil langkah tegas dengan melakukan hapus buku senilai Rp 1,03 triliun, yang berhasil mencatatkan recovery rate 18,6 persen (setara Rp 192 miliar). Perseroan juga melakukan restrukturisasi kredit senilai Rp 4,17 triliun sebagai upaya penyelamatan debitur.
Dari sisi pendanaan, Bank Jatim fokus pada penetrasi dana murah (CASA) berbasis ekosistem dan transaction banking. Strategi ini terbukti jitu mendongkrak Dana Pihak Ketiga (DPK), di mana produk Giro melesat 12,5 persen (YoY) menjadi Rp 21,4 triliun. Total nasabah DPK Bank Jatim kini menembus 10,9 juta nasabah (naik 5,64 persen).
Pertumbuhan dana murah ini tidak lepas dari pesatnya digitalisasi layanan JConnect. Sepanjang 2025, pengguna JConnect Mobile hampir menyentuh 1 juta pengguna (993.972 user), tumbuh 22,40 persen dengan nilai transaksi mencapai Rp 65,77 triliun.
Tak ketinggalan, adopsi QRIS Bank Jatim melonjak 47,25 persen dengan nilai transaksi menembus Rp 3,94 triliun dari 203.725 merchant. Kinerja ini turut ditopang oleh perluasan Agen Jatim yang kini berjumlah 14.842 agen, yang secara aktif memberikan kontribusi referral penyaluran kredit di daerah-daerah potensial.





