sekitarsurabaya.com/, SURABAYA — Pemerintah Kota Surabaya bakal memberikan bonus atau reward bagi warga yang melaporkan aksi pencurian kabel lampu penerangan jalan umum (PJU).
Langkah ini ditempuh menyusul meningkatnya kasus pencurian kabel PJU di Kota Pahlawan dalam satu bulan terakhir.
Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Surabaya, M. Fikser mengajak warga berpartisipasi aktif dalam mencegah tindak pencurian. Ia menegaskan, warga yang memberikan laporan valid berhak mendapatkan bonus atau hadiah dari pemkot.
“Jika melihat aksi pencurian kabel PJU silakan dilaporkan ke pemerintah kota. Laporan berupa video bisa disampaikan melalui aplikasi WargaKu atau media sosial resmi milik Pemkot Surabaya,” ujar Fikser, Sabtu (29/11/2025).
Untuk mendapatkan bonus tersebut, pelapor dapat menyertakan rekaman video yang jelas memperlihatkan pelaku sedang mencuri kabel PJU.
Jika pelaku menggunakan kendaraan, nomor polisi kendaraan harus terlihat di dalam video. Video laporan dapat dikirimkan melalui aplikasi WargaKu atau media sosial Instagram @dishubsurabaya dan @surabaya.
Fikser menuturkan, pencurian kabel PJU berdampak langsung terhadap keselamatan warga. Selain menyebabkan jalan menjadi gelap, kondisi tersebut meningkatkan peluang terjadinya kecelakaan maupun tindakan kriminalitas.
“Kami berharap masyarakat turut berperan aktif, karena menjaga fasilitas umum adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Kepala Bidang Prasarana Transportasi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya, Agung Karyadi menambahkan, terdapat sekitar 12 lokasi yang menjadi sasaran aksi pencurian kabel PJU sepanjang November 2025.
“Total panjang kabel PJU yang dicuri di 12 lokasi mencapai sekitar 1.800 meter. Dari 12 lokasi tersebut terdiri dari 60 gawang (tiang) PJU,” kata Agung.
Lokasi yang terdampak di antaranya Jalan Pemuda sisi selatan, Jalan Panglima Sudirman sisi timur, Jalan Gubernur Suryo, Jalan Wijaya Kusuma, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Indrapura, hingga Jalan Urip Sumoharjo sisi barat.
Menurut Agung, para pelaku diduga bekerja secara terorganisir dan kerap menyamar sebagai petugas lapangan dengan mengenakan rompi, helm keselamatan, hingga menggunakan mobil operasional.
“Mereka biasanya mematikan listrik PJU di malam hari dan berpura-pura melakukan perbaikan. Pakai rompi, helm serta membawa mobil operasional seperti pekerja sungguhan. Jadi masyarakat percaya dan tidak curiga,” terang Agung.





