Psikolog: Stigma Gen Z Minim Skill Interpersonal di Dunia Kerja Hanya Stereotip

SEKITARSURABAYA.COM, SURABAYA -- Isu tentang Generasi Z (Gen Z) di dunia kerja kembali mencuat setelah survei General Assembly menyebut perusahaan di Amerika Serikat enggan merekrut Gen Z karena dianggap minim keterampilan interpersonal.
Psikolog Unair, Dimas Aryo Wicaksono menilai, stigma tersebut tidak sepenuhnya benar.
“Kalau misalkan merujuk Gen Z itu problematik, saya pikir ini lebih pada stereotip. Tergantung pada kacamata mana yang kita pakai,” ujar Dimas, Jumat (29/8/2025).
Menurutnya, bias penilaian kerap muncul dalam bentuk mirroring, yaitu kecenderungan membandingkan generasi baru dengan pengalaman generasi sebelumnya saat pertama kali bekerja.
Ia menekankan setiap generasi memiliki karakteristik berbeda dan idealisme khas Gen Z justru bisa menjadi “darah segar” yang melahirkan ide-ide kreatif bagi perusahaan.
Sebagai digital native, Gen Z dinilai unggul dalam teknologi dan kreativitas. Dimas menyebut transformasi digital yang kini menjadi kebutuhan perusahaan justru memerlukan kompetensi khas generasi ini.
“Mereka lebih nyaman diperlakukan sebagai individu dengan keunikan masing-masing, bukan sekadar kelompok pekerja,” ujarnya.
Ia menambahkan, perusahaan perlu membangun komunikasi dua arah sejak awal karena kesenjangan ekspektasi sering kali terjadi.
Jika generasi lama menekankan loyalitas jangka panjang, Gen Z lebih mengutamakan fleksibilitas, work-life balance, serta kebermaknaan dalam bekerja.
Dimas juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi. Generasi pendahulu seperti boomers, X, Y, hingga milenial perlu berperan sebagai mentor bagi Gen Z.
Sebaliknya, Gen Z juga harus beradaptasi dengan nilai dan budaya perusahaan tanpa kehilangan identitasnya.
“Keberhasilan di tempat kerja tidak cukup mengandalkan kemampuan, tetapi juga sikap, nilai, dan prinsip. Kalau terjadi perbedaan prinsip, jangan buru-buru emosional, tapi sampaikan dengan cara yang tepat,” ucapnya.